Kamu pasti pernah mendengar istilah seks bebas. Yup, seks bebas adalah  hubungan seks yang dilakukan diluar nikah. Menurut para psikolog, perilaku seks bebas ini cenderung dilakukan oleh generasi muda karena secara psikologis remaja masih labil dan senang mencoba hal-hal baru. 



Resiko berat menanti para remaja pelaku seks bebas : putus sekolah, hamil di usia muda (ketika teman-temannya belajar di sekolah, dia di rumah mengurus bayinya), aneka macam penyakit kelamin (HIV aids, sifilis, kanker rahim), dan aborsi (wah, sudah berzina, membunuh pula). Yup, kamu juga tentu ingat bahwa seks bebas adalah zina, dan zina merupakan dosa besar, apalagi dilanjutkan dengan membunuh janin. 

Hasil penelitian BKKBN terbaru tentang perilaku seks bebas di kalangan remaja Indonesia sangat mengejutkan : 51% remaja di Jabodetabek telah melakukan seks bebas, di Surabaya 54 %, di Bandung 47%, dan di Medan 52%. Woow, angka yang sangat besar, bukan? dan kalau melihat gejalanya, di daerah lain pun bisa jadi kondisinya sama. 
Apa yang menyebabkan hal tersebut? Para psikolog dan pengamat sosial mengungkapkan bahwa akses pornografi dan sikap permisif dari keluarga yang menjadi penyebab utamanya. “Saat ini akses terhadap materi pornografi semakin mudah, misalnya lewat internet atau telepon seluler, belum lagi tekanan dari teman sebaya atau satu gank, misalnya ada pendapat yang mengatakan kalau masih perawan berarti kuno. Hal ini sedikit banyak mendorong remaja melakukan seks bebas” kata Bu Ratih Ibrahim, salah seorang psikolog.

Selain dua hal tersebut, faktor lainnya yang menyebabkan maraknya seks bebas adalah adanya kekacauan sistem yang mengatur hidup kita. Sistem hidup manusia terdiri dari sejumlah nilai, hukum dan aturan, yang berasal dari Tuhan maupun yang dibuat manusia sendiri.

Salah satu kekacauan dalam sistem kita adalah tempat pelacuran. Kamu tentu pernah mendengar bahwa di beberapa wilayah tertentu tempat pelacuran dilindungi oleh peraturan pemerintah setempat. Pemerintah mungkin lupa bahwa jika mengijinkan pelacuran berarti mereka membiarkan dosa dan kerusakan besar terjadi di wilayahnya sendiri. 


Sebagian dari mereka beralasan bahwa pelacuran dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat di sekitarnya, ah bukankah Tuhan sudah memberikan manusia akal untuk berpikir, bukankah banyak sektor pekerjaan lain yang halal yang bisa dikembangkan?.

0 komentar: